Kamis, 22 Juli 2010

My mind

Gue paling iri sama orang yang punya cita-cita. Yang udah punya gambaran yang jelas tentang kehidupannnya, kemana dia mau pergi setelah ini. Bahkan sudah ada yang tau kemana dirinya akan tinggal setelah pensiun tadi.
Kalau ditanya soal mimpi, gue punya segudang. Gue bahkan sampai bingung gimana cara untuk mewujudkannya, saking banyaknya mimpi itu. Dari kecil gue terbiasa dituntut. Belajar ini, belajar itu, seolah-olah gue hidup sendiri dunia ini. Sekolah dimana, akan melanjutkan kemana, les apa, sedangkan kegiatan yang bener-bener gue inginkan sepertinya belum ada yang terlaksana. Mungkin kedengarannya terlalu berlebihan, tapi ya itulah. Semua orang butuh istirahat dari segala tuntutan.
Gue diajarin untuk selalu bermimpi, karena semua memang berawal dari mimpi. Oke, mungkin gue memang belum tau apa cita-cita gue. Terus, kenapa? Buat gue cita-cita itu bukan suatu hal yang mutlak. Bisa berubah kapan saja, seiring penglihatan gue terhadap sesuatu yang selalu berubah. Toh apa salahnya, melakukan suatu kesalahan? Toh, gue masih 15 tahun dan waktu terus berputar. Justru dengan kesalahan-kesalahan itu gue bisa belajar dan akhirnya gue bisa mengerti apa yang sebenernya gue inginkan. Gue bukan tidak punya cita-cita, tapi belum. Bukannya banyak orang-orang yang kuliah banting tulang di Fakultas Dokter dan berakhir menjadi pemilik retail yang notabene gajinya lebih besar? Siapa yang tau sih. Lagipula memilih pekerjaan itu bukan atas dasar keakuratannya dalam memberi gaji yang besar, melainkan kenyamanan kita menjalankan pekerjaan itu sendiri. Buat apa kuliah susah, biaya mahal, tapi dilakukan setengah hati?
Tadinya gue gak pengen ngepost hal semacam ini di blog karena terdengar sarkastik, but I can't find the other way.


I have right to chose, and no one has right to rain on my dreams. Whoever it is.


Best regards,
Dhafinta

0 komentar:

Poskan Komentar